Written on
July 15, 2008 – 11:28 pm | by myd4u9ht3rs
Mengajak Bukan Memvonis
Farid Nu’man
Objek da’wah, walau ia ahli maksiat dan pelaku kesesatan, adalah manusia yang memiliki hati sebagaimana lainnya. Hati adalah pintu pertama kegoncangan jiwa, sebagaimana menjadi pintu pertama terhadap petunjuk. Ia
bisa berontak jika ditusuk, melawan jika disakiti, dan menjauh jika
dikeraskan. Maka jagalah perasaan manusia, rebutlah hati mereka dengan
lembutnya seruan, hikmahnya lisan, dan santunnya akhlak. Anda tidak
bisa menguasai orang lain kecuali dengan senyuman, tutur kata yang
sopan, kedermawanan, dan keteladanan. Berikan mereka harta yang banyak,
namun dengan cara melempar, kasar dan di ungkit-ungkit, maka ia akan
menolak harta tersebut walau amat membutuhkannya. Sekalipun menerima,
ia amat terpaksa dan menerima dengan air mata dan hati yang perih.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak mampu menguasai
manusia dengan harta kalian, namun mereka dapat dikuasai dengan
manisnya wajah dan akhlak yang baik." (HR. Abu Ya’la, Imam Hakim
menshahihkannya. Bulughul Maram, Bab At Targhib min Musawi al Akhlaq.
no. 1341)
Mukadimah
Ada seorang bertanya kepada ulama, "Adakah sihir yang dibolehkan?" ,
jawab ulama itu, "Ada, yaitu senyummu kepada saudaramu."
Diriwayatkan tentang Imam Sufyan ats Tsauri, bahwa dia amat sering
menangis di tengah malam dalam sujud panjangnya dan dikegelapan
kamarnya. Namun ia amat murah senyum di siang harinya ketika
berinteraksi dengan manusia. Hatinya lembut kepada manusia, sehingga
mereka mencintainya, mendengarkan petuahnya, dan menunggu nasihatnya.
Itulah balasan yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan untuknya, lantaran
sikapnya yang mempesona di mata manusia.
Imam Aun menceritakan tentang gurunya, yaitu Imam Muhammad
bin Sirrin radhiallahu ‘anhu, bahwa ia adalah orang yang amat keras dan
ketat terhadap dirinya sendiri, namun begitu fleksibel dan banyak
memberikan kemudahan kepada orang lain. Begitu pula Imam Muzani (murid
Imam Syafi’i), ia disifati manusia sebagai, "Seorang yang sangat
mempersempit dirinya sendiri dalam kewara’an, sedangkan terhadap orang
lain ia memberikan kelonggaran yang seluas-luasnya. "
Imam Sufyan ats Tsauri pernah berkata –sebagaimana yang dikutip Imam an
Nawawi dalam Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, "Sesungguhnya fiqih itu
adalah keringanan yang datang dari orang yang dapat dipercaya,
sedangkan berlaku keras dan menyulitkan itu dapat saja dengan mudah
dilakukan setiap orang."
Imam Hasan al Bashri berkata, "Sesungguhnya sejelek-jeleknya hamba
Allah adalah yang mendatangkan persoalan-persoalan yang buruk, dan dia
menyusahkan hamba Allah yang lain dengan hal itu."
Imam al Auza’i berkata, "Jika Allah hendak mencegah hambaNya dari
berkah ilmu, ia memberikan persoalan-persoalan ruwet di mulut orang
itu."
Imam Atha’ berkata, "Jika kalian dihadapkan pada dua perkara, bawalah
kaum muslimin kepada yang lebih mudah di antara keduanya."
Imam Asy Sya’bi berkata, "Sesungguhnya seseorang diberi dua pilihan,
lalu dia memilih yang paling mudah di antara keduanya, dia akan
disenangi Allah."
Demikianlah para salafus shalih. Mereka begitu menghargai
kemanusiaannya manusia, mengetahui sisi kejiwaan para mad’u, dan
terlebih dari itu, mereka amat piawai dalam menerapkan dan menempatkan
syariat ini sebagaimana mestinya. Amat berbeda dengan manusia (baca:
sebagian para da’i) sekarang, lebih banyak menyulitkan dibanding
memberikan kemudahan, mengancam dibanding kabar gembira, menyempitkan
dibanding toleransi, melarang-larang dibanding memberikan alternatif,
menuduh dibanding berbaik sangka, memvonis dan menghakimi dibanding
mengajak dengan lembut. Memanggilnya dengan panggilan yang mengerikan
seperti mubtadi’ kabir (gembongnya pelaku bid’ah), mudhill (orang yang
sesat), dan lain-lain, dibanding mendoakannya seperti hadanallahu wa
iyyah (semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan dia) atau
saddaddallahu khuthahu (semoga Allah meluruskan langkahnya). Mereka
mencaci memaki kegelapan, dibanding menyalakan lilin.
Menguasai Hati Orang Lain
Objek da’wah, walau ia ahli maksiat dan pelaku kesesatan, adalah
manusia yang memiliki hati sebagaimana lainnya. Hati adalah pintu pertama kegoncangan jiwa, sebagaimana menjadi pintu pertama terhadap petunjuk. Ia
bisa berontak jika ditusuk, melawan jika disakiti, dan menjauh jika
dikeraskan. Maka jagalah perasaan manusia, rebutlah hati mereka dengan
lembutnya seruan, hikmahnya lisan, dan santunnya akhlak. Anda tidak
bisa menguasai orang lain kecuali dengan senyuman, tutur kata yang
sopan, kedermawanan, dan keteladanan. Berikan mereka harta yang banyak,
namun dengan cara melempar, kasar dan di ungkit-ungkit, maka ia akan
menolak harta tersebut walau amat membutuhkannya. Sekalipun menerima,
ia amat terpaksa dan menerima dengan air mata dan hati yang perih.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak mampu menguasai
manusia dengan harta kalian, namun mereka dapat dikuasai dengan
manisnya wajah dan akhlak yang baik." (HR. Abu Ya’la, Imam Hakim
menshahihkannya. Bulughul Maram, Bab At Targhib min Musawi al Akhlaq.
no. 1341)
Tidak sedikit mad’u yang lari meninggalkan da’i lantaran luka dihati,
kekecewaan, dan kesempitan yang ditawarkan kepada mereka. Sehingga
pertemuan dengan da’I bukan suatu yang dirindukan, namun bagaikan
pertemuan dengan jaksa penuntut umum yang siap memberikannya tuntutan
dan sanksi, atau reserse yang siap menginterogasi dan membawanya ke
penjara, atau guru killer yang siap memberinya setumpuk Pekerjaan
Rumah. Tidak demikian wahai ikhwah, jangan begitu wahai da’i …..
Apakah kita mau da’wah ini justru menjadi fitnah menyeramkan bagi
mereka lantaran kegarangan para du’at?
Mengikuti Uslub (metode) Al Qur’an
Al Qur’an hendaknya menjadi pedoman utama para da’i. Uslub tarbiyah dan
da’wahnya amat indah dan mempesona, dan memberika keberuntungan yang
amat besar bagi da’wah. Al Qur’an mengajarkan kita kelembutan dan
menjauhi kekasaran dalam menghadapi manusia, agar ia mau mendekat,
menerima seruan, dan mengikuti ajakan. Simaklah.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
"Oleh karena rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya engkau keras dan berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekitarmu. Jadi, maafkanlah mereka dan memohonkan
ampun bagi mereka." (QS. Ali Imran: 154)
FirmanNya yang lain:
"Tidaklah
sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang
lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman setia. Sifat-sifat yang baik
itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan
tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai
keberuntungan yang besar." (QS. Al Fushilat: 34-35)
Allah
‘Azza wa Jalla memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘Alaihimassalam
untuk menggunakan kata-kata yang lembut (Qaulan layyinan) ketika
menda’wahi manusia paling zalim, Fir’aun, sebagaimana yang dikisahkan
dalam surat Thaha ayat 44.
Selain
itu, Al Qur’an yang ada ditangan kita telah mengajarkan, jika ia
mengharamkan sesuatu pastilah diberikan alternatifnya. Al Qur’an telah
mengharamkan riba dengan pasti, tetapi ia menghalalkan jual beli. Al
Qur’an telah mengharamkan zina dan menilainya sebagai perbuatan amat
keji, tetapi ia menghalalkan pernikahan, Al Qur’an melarang dengan
tegas membunuh manusia dengan cara tidak haq, tetapi ia memerintahkan
jihad dan mengagungkannya. Demikianlah Al Qur’an, tidaklah ia melarang
sesuatu dan mencelanya melainkan ia juga memberikan alternatif dan
solusinya. Ambillah ini sebagai pelajaran.
Tidak
dibenarkan da’i melarang-larang manusia dari ini dan itu, tetapi ia
tidak mendorongnya kepada hal yang lebih baik dan selamat, yang
tentunya tidak bertentangan dengan syariat. Tidak dibenarkan ia
melarang-larang anak-anak band dari hobinya itu, tanpa memberikan
alternatif hiburan yang dibenarkan syariat. Tidak benarkan da’i mencaci
maki para peminat media jahiliyah, tanpa menyodorkan media Islami.
Tidak dibenarkan pula menuding film atau sinetron murahan dan picisan,
tanpa memberikan gantinya yang lebih baik.
Mengikuti Uslub Rasulullah
Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sebaik-baiknya
petunjuk. Bahkan jika manusia dalam kondisi fatrah (baca: futur) namun
tetap di atas sunnahnya, beliau katakan ‘faqadihtada’ ( ia telah di
atas petunjuk). Maka wajib bagi para da’i mengikuti jejaknya yang
mulia, dan meneladani uslub da’wahnya yang bersinar.
Terhadap kaum yang menolak da’wahnya, ia berkata, "Allahummaghfirli
qaumi fainnahum laa ya’lamun" (Ya Allah, ampunilah kaumku,
sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui).
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah itu lembut, menyukai kelembutan
dalam segara urusan." (HR. Muttafaq ‘Alaih. Riadhusshalihin. no. 631)
Dari ‘Aisyah pula, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya kelembutan itu
tidaklah menjadikan sesuatu kecuali menambah indah, dan tidaklah
dicabut dari sesuatu (kelembutan itu) kecuali menambah kejelekan." (HR.
Muslim. Ibid. no. 633)
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda: "Siapa yang diharamkan dari sifat lembut, maka telah
diharamkan dari semua kebaikan." (HR. Muslim. Ibid. no. 636)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda; "Sesungguhnya kalian tidak mampu menguasai manusia
dengan harta kalian, tetapi mereka dapat dikuasai dengan manisnya wajah
dan akhlak yang baik." (HR. Abu Ya’la, Imam Hakim menshahihkannya.
Bulughul Maram, bab. At Targhib min Musawi al Akhlaq. No. 1341)
Rasulullah pernah ditimpuki batu di Thaif ketika berda’wah kepada Bani
Tsaqif, namun begitu beliau tetap tabah dapat mampu menahan diri, tidak
emosional untuk membalas. Bahkan ketika malaikat penjaga gunung
berkata kepadanya, "Apakah engkau meminta kepadaku agar membalikkan
bumi tempat mereka tinggal ini?" Nabi menjawab, "Tidak, aku hanya
memohon kepada Allah agar dari tulang sulbi mereka nanti akan lahir
generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukanNya. " (HR.
Bukhari dan Muslim)
Imam
Bukhari meriwayatkan, pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, ada seorang pemuda yang menjadi ‘pelanggan’ hukuman hudud
lantaran hobinya meminum khamr. Acapkali orang ini diserahkan kepada
nabi, beliau melaksanakan hudud atasnya.
Sebagian sahabat ada yang berkata, "Semoga Allah merendahkannya, selalu
saja dia dilaporkan kepada Nabi karena kasus khamr."
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam marah seraya berkata, "Jangan
berkata demikian, jangan menolong syetan lebih mudah memperdayakannya.
Demi Zat yang jiwaku ada di tanganNya, aku tidak mengetahui dari orang
ini kecuali bahwa dia mencintai Allah dan RasulNya." (HR. Bukhari dari
Umar radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Alangkah indahnya Rasulullah mendidik dan menyeru umatnya. Maka
janganlah kita membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa
Jalla, walau sebesar apapun kesalahan dan dosa yang dilakukan.
Hendaknya kita tetap menganggap mereka sebagai umat Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka memiliki potensi untuk berubah
dan kembali kepada jalan yang benar. Bukankah dahulu kita pernah
mengalami masa-masa jahiliyah sebagaimana mereka, atau mungkin
kejahiliyahan yang melebihi mereka? Betapa sabar para pembimbing
(murabbi) dan ustadz terhadap diri kta. Maka, jangan buat umat lari
dari ampunan Allah Ta’ala yang teramat luas.
Mengikuti Uslub Para Sahabat
Para sahabat adalah bintang-bintang di antara manusia. Bintang,
keberadaannya membuat indah langit di malam hari, begitu pula para
sahabat Nabi di tengah-tengah umat. Adakah manusia yang membenci
bintang? Petuah-petuah mereka adalah petunjuk yang lahir dari madrasah
nabawiyah.
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, "Orang-orang yang
benar-benar faqih itu adalah orang yang tidak membuat manusia berputus
asa dari rahmat Allah, namun tidak juga memberi keringanan kepada
mereka untuk melakukan maksiat kepada Allah." (diriwayatkan oleh Imam
Ad Darimi secara mauquf, secara marfu’-nya terdapat dalam Jami’ al
Ahadits wal Marasil)
Umar bin al Khathab radhiallahu ‘anhu berkata, "Ada tiga hal yang bisa
membuat saudaramu mencintaimu, yaitu: memanggilnya dengan nama yang
paling dia sukai, melapangkan tempat duduk baginya dalam suatu majelis,
dan memulai ucapan salam."
Ikhwah …. tidak sedikit para da’i yang memboikot manusia lantaran
maksiat kecil yang dibuatnya. Ia tidak menyapanya, apalagi salam, tidak
mau duduk satu majelis dengannya, tidak memanggilnya dengan panggilan
kesukaannya. Justru di belakang ia menggunjingnya dengan mengatakan, ia
jahil, ahlul hawa, ahlul ma’shiyah, dan lainnya. Tentu ini bertantangan
dengan sunah Umar radhiallahu ‘anhu, dan akan membuat manusia semakin
menjauhinya.
Mengikuti Uslub Para Ulama Rabbani
Imam Abdullah bin Mubarak pernah membuat syair:
Pada saat engkau bergaul dengan masyarakat yang penuh cinta kasih
Bersikaplah kepada mereka seolah-olah engkau saudara mereka
Jangan mencela setiap kekurangan kaum,
Atau engkau tidak akan pernah memiliki teman
Menjelang wafatnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dihadapkan ke kiblat
dan berkata, "Aku bertobat dari perbuatanku yang mengkafirkan ahli
kiblat (muslim)." Dia mengulanginya dua kali. Syaikh Aidh al Qarny
berkata, "Ibnu Taimiyah adalah ulama yang sangat jarang mentakfir-kan
orang walau ia sangat keras terhadap ahli bid’ah. Namun saat ini orang
sangat gampang mentakfirkan karena dangkalnya ilmu fiqih mereka."
Takfir memang ada dalam konsep Ahlus Sunnah, namun hanya boleh
dilakukan jika syarat-syaratnya (dhawabith) terpenuhi, itu pun hanya
dilakukan oleh ulama mumpuni atau sekelompok ulama yang melakukan
ijtihad kolektif.
Imam Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in-nya menyebutkan bahwa Imam
Ahmad jika ditanya tentang masalah yang diharamkan dia berkata, "Aku
tidak suka ini, aku takut ini diharamkan."
Begitu
pula ulama lainnya. Mereka lebih suka mengatakan ghairu masyru’ (tidak
disyariatkan) , lebih baik jangan, aku benci ini, mungkin engkau lupa.
Dibanding mengatakan ini haram, sesat, kafir, Allah tidak
menyelamatkanmu, kembalinya ke neraka, engkau pendusta, dan vonis
menyeramkan lainnya. Namun demikian, mereka juga tidak segan akan
mengatakan hal yang demikian itu jika permasalahannya jelas dan tidak
samar keharamannya, kesesatannya, dan kekafirannya.
Dari Ibnul Junaid, dia berkata, bahwa Imam Yahya bin Ma’in mengatakan,
"Pengharaman air anggur (nabidz) itu adalah shahih. Akan tetapi aku
tidak mau berkomentar dan aku tidak mengharamkannya. Karena ada
orang-orang shalih yang meminumnya dengan dalil hadits-hadits yang
shahih. Dan ada orang shalih lainnya yang mengharamkannya, juga dengan
hadits-hadits shahih." (Siyar 11/87-88)
Imam Ahmad pernah ditanya tentang orang yang shalat sunah setelah
ashar, ia menjawab, "Kami tidak melakukannya, namun kami tidak akan
mencela orang yang melakukannya. "
‘Aisyah
radhiallahu ‘anha pernah mengomentari ucapan Ibnu Umar yang melarang
manusia menangisi mayit anggota keluarganya. Katanya, "Mudah-mudahan
Allah mengampuni Ibnu Umar. Aku yakin ia tidak berdusta, tetapi dia
lupa atau salah." (HR. Malik dalam Muwatha’ Bab Al Janazah)
Demikianlah, manusia yang ilmunya luas akan mampu menahan lisan kotor
dan kasar dalam mengomentari kesalahan manusia. Ada manusia yang amat
keras terhadap saudaranya yang minum sambil berdiri, padahal manusia
berselisih paham tentangnya. Ada yang menyebutnya makruh tahrim (makruh
yang mendekati haram) seperti Syaikh al Albany dan Imam Ibnu Hazm,
lantaran ada riwayat dari Anas bin Malik yang melarang minum sambil
berdiri, katanya, "Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang
manusia minum sambil berdiri." Qatadah bertanya: "Kalau makan
bagaimana?" Dijawab, "Kalau makan berdiri itu lebih busuk dan jahat."
(HR. Muslim)
Adapun jika terlanjur minum sambil berdiri hendaknya memuntahkannya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Namun
ada pula yang menyebutnya mubah (boleh). Sebab dari Ibnu Umar ia
berkata, "Dahulu kita di masa Rasulullah, adakalanya makan sambil
berjalan, dan kita minum dengan berdiri." (HR. At Tirmidzi, ia
menshahihkannya) Amir bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, berkata:
"Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam minum
sambil berdiri dan juga pernah melihatnya minum sambil duduk." (HR.
Tirmidzi). atau Imam Malik meriwayatkan bahwa Umar, Utsman, dan Ali
pernah minum dengan berdiri. Ada pula yang mengatakan semuanya bisa
benar, tergantung kondisi. Sedangkan Imam an Nawawi dalam kitabnya yang
terkenal Riyadhushshalihin menulis Bab Bolehnya minum sambil berdiri,
namun lebih sempurna (akmal) dan utama (afdhal) sambil duduk. (Lihat
Riyadhusshalihin. Hal. 220. Maktabatul Iman – Al Manshurah. Tahqiq oleh
Muhammad ‘Ishamuddin Amin)
Ada pula manusia yang keras dan melotot tajam terhadap
saudaranya yang kencing sambil berdiri Abu Wail menceritakan bahwa Abu
Musa al Asy’ary pernah bersikap keras dalam hal kencing berdiri. Dia
berkata, "Sesungguhnya Bani Israel itu, apabila ada kencing yang
mengenai baju mereka, maka mereka mengguntingnya. " Maka Hudzaifah
berkata, "Sebaiknya engkau tidak berkata demikian, karena Rasulullah
pernah datang ke sebuah kandang milik suatu kaum, dan beliau kencing
sambil berdiri." (HR. Bukhari dan Abu Daud)
Ucapan Hudzaifah," Sebaiknya engkau tidak berkata demikian..", ketika
mengomentari ucapan Abu Musa mencerminkan bahwa Abu Musa telah
berlebihan dalam menyikapi sesuatu yang dianggapnya salah, dan ternyata
justru Rasulullah pernah melakukannya.
Sikap Imam Adz Dzahabi yang Amat Elegan dan Objektif
Imam Adz Dzahabi rahimahullah adalah salah satu murid Imam Ibnu
Taimiyah. Ia amat piawai dalam ilmu hadits dan sirah. Hati manusia
menjadi tenang, ketika membaca hadits riwayat Imam Hakim lalu setelah
itu tercantum ‘Wafaqahu Adz Dzahabi" (Telah disepakati Adz Dzahabi)
yaitu keshahihannya, lantaran Imam Hakim termasuk yang mutasahil
(menggampangkan) dalam menshahihkan hadits, karena itulah Imam Adz
Dzahabi merasa perlu untuk meninjau kembali.
Ia
memiliki karya yang amat brilian dan monumental yakni Siyar A’lamin
Nubala, karya yang berisi tentang biografi tokoh ulama, khalifah,
satrawan, serta peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Sengaja kami
kutipkan komentar-komentarny a yang objektif, khususnya komentarnya
tentang kekeliruan yang dilakukan manusia dan tokoh ternama, sebab di
dalamnya terdapat pelajaran yang amat berharga bagi orang yang
menghargai ilmu, mencintai ulama, objektifitas dan menjunjung akhlak
Islam. Berikut akan kami uraikan beberapa contoh dan simak baik-baik.
A.
Sikap Imam Adz Dzahabi terhadap seorang ahli hadits terkenal, Imam Ibnu
Hibban, yang pernah mengucapkan ucapan berbahaya, "Kenabian adalah ilmu
dan amal." Mendengar itu manusia menuduhnya zindik, karena ucapan
seperti itu pernah diucapkan seorang filosof bahwa kenabian itu bisa
diusahakan dengan ilmu dan amal, bukan karena pilihan Allah. Lalu
manusia mengadukannya kepada khalifah, maka khalifah membuat keputusan
untuk membunuhnya. Bagaimana komentar Imam Adz Dzahabi?
Ia berkata dalam Siyar A’lamin Nubala (16/92-104), "Ibnu Hibban
merupakan salah seorang ulama besar. Namun demikian, kita tidak
menilainya terpelihara dari kesalahan. Apa yang diucapkannya itu dapat
saja dilakukan oleh seorang muslim atau oleh filosof zindik. Seorang
muslim tentu tidak diperkenankan bicara demikian.. namun bila
terlanjur, maka ia diamaafkan."
Kemudian Adz Dzahabi menjelaskan bahwa Ibnu Hibban sebenarnya tidak
bermaksud membatasi kenabian sebatas ilmu dan amal saja. Beliau hanya
ingin menjelaskan bahwa keduanya merupakan sifat paling sempurna bagi
seorang nabi. Adapun ucapan filosof, "Kenabian itu bisa diusahakan
sebagai hasil dari ilmu pengetahuan dan amal." Maka ucapan inilah yang
disebut kekafiran, dan ini bukan sama sekali yang dimaksud Imam Abu
Hatim Ibnu hibban. Tidak mungkin ia bermaksud seperti itu."
Ikhwah … lihatlah komentar ini, begitu indah dan santun, tanpa
mengurangi nilai kritiknya. Apa jadinya seandainya bukan Imam Adz
Dzahabi yang memberikan komentar? Niscaya Imam Ibnu Hibban akan dituduh
sebagai zindik, kafir, dan lain-lain.
B.
Sikap Adz Dzahabi tentang Al Aswad bin Yazid yang telah melakukan puasa
sepanjang tahun (shaum ad dahr). Padahal shaum ad dahr itu terlarang
dalam syariat Islam. Imam Adz Dzahabi membenarkan kabar tersebut. Lalu
ia mengomentari: "Sepertinya, larangan tentang shaum ad dahr belum
sampai ke telinga Ibnu Yazid, atau ia bertakwil di dalamnya." (Siyar
4/50-53). Seperti itulah Adz Dzahabi, ia mencarikan dalih bagi Al Aswad
bin Yazid dengan mengatakan bahwa kemungkinan Al Aswad belum mendengar
hadits yang melarangnya, atau sudah mendengar tetapi ia tidak memahami
adanya keharaman di dalamnya.
C.
Sikap Adz Dzahabi terhadap Ulama hadits, Salah seorang Imam Jarh wa
Ta’dil, yakni Imam Yahya bin Ma’in. beliau adalah kawan dari Imam Ahmad
bin Hambal. Dikutip dari Al Hushain bin Fahm, bahwa Yahya bin Ma’in
pernah berkata: "Dulu aku pernah berada di Mesir, lalu akau lihat
seorang budak wanita dijual dengan harga seribu dinar. Aku belum pernah
melihat wanita secantik dia, semoga Allah memberinya keselamatan. "
Lalu aku (Al Hushain ) berkata: "Wahai Abu Zakaria, orang sepertimu
berbicara seperti itu? Beliau berkata: "Ya, semoga Allah memberinya
keselamatan dan juga pada setiap orang yang cantik."
Ikhwah
…. Apa komentar Imam Adz Dzahabi? Ia berkata, "Cerita ini dapat
diterima sebagai sebuah lelucon (gurauan) belaka dari Abu Zakaria
(Yahya bin Ma’in)." Demikianlah, menurut Imam Adz Dzahabi itu hanyalah
lelucannya Imam Yahya bin Ma’in. ia tidak benar-benar bermaksud
mengatakan demikian terhadap wanita dalam keadaan serius. Jika bukan
Adz dzahabi yang mengomentari, mungkin Imam Yahya bin Ma’in akan
dituduh fasiq. Koq, ulama memuji-muji kecantikan wanita.
D.
Sikap Adz Dzahabi terhadap Jarh (celaan) Imam Al Qadhy Abu Bakar bin
al Araby al Maliki terhadap Imam Abu Muhammad bin Hazm azh Zhahiry
dengan celaan yang amat merendahkan. Di dalam kitabnya, Al Qawashim wal
Awashim, Ibnul Araby menyebut Ibnu Hazm sebagai orang tolol dari
isybiliyah (sevila sekarang, Spanyol), tidak mengerti mazhab-mazhab,
sesat dan ahli bid’ah. Nah, bagaimana komentar Imam Adz Dzahabi
terhadap celaan Imam Ibnul ‘Araby ini?
Ia berkata, "Al Qadhy Abu Bakar rahimahullah kurang bersikap adil dalam
menilai guru dari ayahnya (maksudnya Ibnu Hazm). Beliau juga tidak fair
dalam membicarakannya, dan terlalu merendahkan. Padahal Al Qadhy Abu
Bakar, walau kedudukannya tinggi dalam ilmu pengetahuan, ia belum
mencapai derajat Abu Muhammad (Ibnu hazm), dan masih terlalu jauh.
Semoga saja, Allah memberikan maghfirah kepada keduanya."
Imam Izzuddin bin Abdussalam berkata, "Aku tidak pernah mendapatkan
kitab-kitab Islam mengenai keilmuan yang lebih bagus daripada kitab Al
Muhalla karya Ibnu Hazm dan Al Mughni karya Syaikh Muwafaqqud Din (Ibnu
Qudamah)." Adz Dzahabi berkata, "Syaikh Izzuddin telah berkata benar.
Kitab ketiga adalah As Sunan Al Kubra karya Al Baihaqi. Keempat , At
Tamhid, karya Ibnu Abdul Barr. Maka siapa saja yang memperoleh
karya-karya tersebut, dan ia seorang yang cerdas dan telah melakukan
kajian mendalam terhadap kitab-kitab tersebut, maka dialah ulama yang
sebenarnya." (Siyar 18/188-192)
Ikhwah fillah …, sebenarnya masih banyak lagi keindahan akhlak Imam
Adz Dzahabi dalam memberikan penilaian objektif terhadap orang dan
tokoh yang keliru, seperti sikapnya yang adil terhadap Imam al Ghazaly
antara yang merendahkannya dan mengkultuskannya, atau sikapnya yang
adil terhadap Imam Waki’ (gurunya Imam Syafi’i) yang juga melakukan
puasa dahr dan meminum air anggur.
Demikianlah
seorang da’i, seharusnya mengajak manusia yang keliru menuju kearah
kebaikan, serta memperhatikan kedudukan orang tersebut di hati
masyarakat, agar bisa menyikapinya secara bijak dan bajik. Bukan
menghakimi dan merendahkan kedudukannya di mata manusia, yang justru
melahirkan perlawanan keras dan penyimpangan yang lebih jauh.
Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah
Note : Di sadur dari Yahoo groups keadilan batam
Posted in Religion | No Comments »